Kamis, 24 Juni 2010

Mencerahkan Foto dengan Levels

Konon hasil dari jepretan kamera baik analog maupun digital, biasanya memiliki eksposur -1 atau 1 step lebih gelap dari hasil pengukuran cahaya aslinya. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi hilangnya detil gambar akibat over ekspose atau cahaya yang berlebih. Over expose cenderung lebih miskin detil ketimbang under expose. Jadi diterapkannya setting under expose adalah untuk menyimpan sebanyak mungkin detil atau informasi, yang akan mempermudah proses retouch atau editing pada photoshop.

Karena hasil asli setiap foto cenderung lebih gelap, lalu bagaimana cara mengembalikan eksposur menjadi secerah dan 'seindah aslinya'?

Tunggu dulu sob, istilah 'seindah aslinya' bukan lagi jadi ungkapan tertinggi dalam bahasa fotografi saat ini. Okelah, untuk sebuah foto yang kurang cerah kita boleh mengidamkannya menjadi 'seindah aslinya'. Tapi bagaimana jika kita bisa membuatnya lebih dramatis dan berkarakter, yang bahkan bisa 'lebih indah dari aslinya'? Dan itu memang terjadi dalam fotografi era ini. Lalu, masihkan menginginkan sebuah foto jadi 'seindah aslinya'?

Maksud saya di sini, bahwa kata 'asli' tidak lagi dikultus dalam makna awalnya, 'dari alam', 'seperti alam'. Kata 'asli' tetap diagungkan dalam pergeserannya menjadi 'sesuatu yang baru dan belum pernah ada sebelumnya'. Asli bukan lagi sehijau daun atau sebening embun. Asli adalah sensasi unik yang dirasakan indera kita, dan mampu meninggalkan jejaknya di dalam hati.

Dor..! Cukup berfilosofnya, ya. :D
Pokoknya jangan pernah bilang ingin 'seindah aslinya' lagi, deh. Atau kamu akan dibilang gaptek!

Kembali ke teknis.

Dari sekian banyak cara untuk mengangkat eksposur atau mencerahkan sebuah foto, saya memilih menggunakan Levels, sebab fungsi ini simpel dan terukur. Fungsinya ada di
Image > Adjustments > Levels


Perhatikan bidang paling luas dengan gambar grafik hitam. Bagian ini memiliki 3 panel pengaturan. Jarum paling kanan untuk mengatur highlight (area terang), yang tengah untuk midtones (area abu-abu), dan yang kiri untuk shadow (area gelap). Jika dirasa bagian paling terang dari foto kurang cerah, maka jarum highlight lah yang kita geser ke kiri. Perhatikan perubahannya. Untuk pengaturan wilayah midtones, gunakan jarum yang berada di tengah. Sedangkan jarum paling kiri berfungsi untuk menggelapkan bidang paling gelap dalam foto.

Untuk lebih jelas apa yang dimaksud dengan area highlight, midtones dan shadow, perhatikan screencapture di bawah ini.


Selanjutnya adalah fungsi 2 jarum paling bawah dari panel levels. Jarum paling kanan berfungsi hanya jika kita menyeretnya ke kiri, ke kanan tidak bisa. Perhatikan perubahannya pada foto. Kita akan melihat foto akan semakin gelap untuk semua gradasi, baik highlight, midtones maupun shadow. Sedangkan jarum sebelah kiri berfungsi sebaliknya, yaitu mengangkat eksposur secara keseluruhan. Cobalah jangan ragu. Tidak ada kesalahan yang bisa kamu lakukan di sini. Kembalikan saja posisi jarum ke default-nya, beres bos.

Gini..gini.. Kuncinya sederhana saja untuk memainkan levels agar menghasilkan foto yang bagus. Jika kita merasa foto kita terlalu didominasi bidang gelap, angkatlah midtones dengan menggeser ke kiri sedikit demi sedikit. Lalu buatlah agar foto memiliki kontras yang cukup dengan menurunkan shadow dan menaikkan highlight. Kontras yang baik akan membuat foto lebih indah dan tidak flat atau datar.

Oke langsung saja dicoba, ya...

Rabu, 16 Juni 2010

Ukuran Cetak Foto

Sebelum mencatak foto dengan printermu sendiri di rumah, ada beberapa hal yang harus dipahami menyangkut ukuran foto itu sendiri, ukuran kertas foto sebagai medianya, dan printer. Ketiga faktor ini harus sinkron agar hasil cetak sesuai dengan yang kita inginkan.

Ini daftar ukuran foto versi Siluet FD;

Ukuran --------------------- Ukuran Sebenarnya (cm)
2x3 -------------------------- 2,3 x 3
3x4 -------------------------- 3 x 4
4x6 -------------------------- 4,2 x 5, 7
2R --------------------------- 5,7 x 8,3
3R --------------------------- 8,5 x 12,5
4R --------------------------- 10 x 15
5R --------------------------- 12,5 x 17,5
6R --------------------------- 15 x 20
10R -------------------------- 20 x 25
10Rjumbo<<< ---------------25 x 30 (menggunakan kertas A3)

Lakukan cropping pada foto untuk mendapatkan ukuran yang diinginkan. Caranya lihat di topik ini. Ukuran kertas foto (glossy photo paper) yang dipakai dengan printer A4 adalah 21 x 29,7 cm. Ini berarti kita hanya bisa mencetak foto dengan ukuran maksimal 10R. Tapi jika kita ingin membuat ukuran sesuka kita misalnya A4 penuh, sah-sah saja. Aturan di atas hanya patokan untuk memudahkan kita dalam pemahaman bersama akan perbedaan ukuran foto. Sedangkan ukuran cetaknya, di setiap studio foto atau tempat percetakan foto bisa berbeda-beda. Maksud saya, Siluet FD membuat ukuran cetak 3R (3x5inch) menjadi 8,5 x 12,5 cm sementara lab foto lain mencetaknya menjadi 8 x 13 cm. Ada pertimbangan masing-masing untuk menentukan ukuran kertas pada kertas foto, baik itu untuk estetika maupun efisiensi.

Perhatikan contoh efisiensi yang didapat dari hasil riset (ciee riset) Siluet FD selama 4 tahun;

Ukuran Glossy Paper------------- Hasil Cetak
A4------------------------------------ 1x(5R) + 3x(3R) + 1x(4x6) + 3x(3x4)/5x(2x3)

Kombinasi ini bisa berubah-ubah sesuai dengan ukuran dan jumlah foto yang akan kita cetak. Intinya adalah efisiensi dengan meminimalisasi sisa kertas foto yang terbuang tetapi tetap tidak menyalahi aturan atau standar umum ukuran foto.

Itu tadi mengenai ukuran dan kertas foto. Untuk setting pada printer yang perlu diperhatikan agar ukuran hasil cetak sesuai dengan ukuran yang telah kita buat dalam photoshop adalah setting margin kiri dan atas, serta fitur borderless dan expansion-nya.

Mendapatkan angka yang tepat untuk margin kiri dan atas sangat perlu agar pencetakan foto benar-benar dimulai dari sisi terluar bidang foto. Jika tidak tepat maka foto akan terpotong atau ada bidang putih yang tidak terisi foto. Sudah jelas ini berarti antiefisiensi! Dan antiefisiensi adalah terorisme! Apa sih...?

Cara cepat memperoleh angka margin yang tepat dan penggunaan fitur borderless akan kita bahas di topik lain. Jika belum diperoleh angka margin untuk printermu tapi sudah kebelet ingin mencetak foto, lakukan saja dengan mengisi angka '0' untuk margin kiri dan atas.


Ayo mencetak....!

Selasa, 15 Juni 2010

Kerjaan Kecil Buatmu di Incentria


Seperti yang kita tahu, memiliki traffic atau lalu-litas yang tinggi sangat diperlukan oleh sebuah situs online untuk memosisikannya pada nomor urut puncak search engine (contoh:google). Dipercaya semakin tinggi pemunculan pada mesin pencari maka semakin tinggi pula nilai ekonomis sebuah situs. Kebutuhan inilah yang membuat bisnis traffic dan affiliate semakin marak di dunia maya. Yang menarik adalah, banyak sekali remah kue yang bisa kita pungut dari fenomena ini dengan cuma-cuma. Diantaranya, kita dibayar jika kita melakukan klik mouse pada link yang telah disediakan. Ya, cuman nge-klik...dapet duit. Meskipun hanya bermodalkan koneksi internet dan waktu luang tok, tapi jika kita tekuni bisa menjadi penghasilan sampingan yang cukup serius jumlahnya. Apalagi jika kita mau sedikit berinvestasi. Tapi lupakan dulu investasi, mari membahas yang gratisan dulu.

Incentria adalah salah satu dari sekian banyak situs yang paling direkomendasikan banyak orang, termasuk saya. Jika kita baru mengenal dan mulai menekuni bisnis PTC (paid to click) ini, saya sarankan untuk memulainya bersama Incentria. Sebab selain kita diberikan PTC link yang setiap kliknya bernilai uang tunai, kita bisa memanfaatkan fasilitas PTS/PTSU (paid to signup). Kita akan dibayar untuk setiap sign up (mendaftar) ke situs lain, dimana list situs pada fasilitas PTS di Incentria mencapai puluhan. Sebuah keuntungan tersendiri untuk pemula. Tidak perlu mencari kesana kemari untuk mendaftar pada situs-situs lain, cukup buka fasilitas PTS, pilih situs yang menarik, maka kita akan dibayar untuk pendaftaran kita.

Selain PTC dan PTS, Incentria menyediakan fasilitas PTP (paid to promote) yaitu dengan cara memasang link atau banner Incentria di situs-situs lain yang sejenis, atau di blog kita jika punya. Jika ada yang mengeklik link tersebut maka otomatis pundi-pundi kita akan bertambah. Tapi tunggu, ada cara lain untuk mempercepat perolehan credits PTP ini, yaitu dengan cara mengarahkan traffic ke referring link Incentria milik kita (otomatis diberikan saat kita menjadi members). Bagaimana mengumpulkan traffic dengan cepat? Mendaftarlah ke situs-situs TE (traffic exhange) seperti EasyHits4U atau SmilleyTraffic. Hasilnya, semakin cepat pula balance dollar kita bertambah, sebab saat surfing mengumpulkan traffic pun kita dibayar oleh mereka. Kita dibayar di sana sini... asik gak tuh? :D

Nah, sekali lagi, di Incentria kita bisa mendapat uang tunai dari PTC, PTS, dan PTP dalam satu situs saja! Dan yang jelas, situs ini pasti membayarkan perolehan uang kita. Saya sudah membuktikannya. Bagi yang belum pernah mendaftar ke situs manapun alias newbie, saya yakin 1 dollar pertama bisa didapat dalam minggu pertama keanggotaan di Incentria!

Bagi yang belum tahu cara untuk bergabung, dengan Incentria, secara umum caranya sama dengan situs-situs lain. Silakan baca di sini.
Untuk bergabung dengan Incentria silakan klik di sini gratis!
Untuk mengetahui cara membuat akun Paypal silakan buka di sini.
Yang mau membuat aku Paypal boleh di sini.
Yang mau membuat akun Alertpay lewat sini saja.

Jika belum jelas atau pusing mikirin hal-hal teknis seperti cara menggunakan fasilitas PTS atau cara mengarahkan traffic ke referring link kita, atau apapun asal bukan tanya arti mimpimu, bisa tanyakan langsung lewat YM! atau posting di sini. Tidak usah sungkan saya orangnya senang membantu :)



Go Incentria Go !

Senin, 31 Mei 2010

Mengulang Langkah (Undo) dengan History

Tidak perlu takut salah jika bekerja di komputer. Sebab selalu ada tombol undo untuk mengulang kesalahan yang mungkin kita buat. Semua program punya tombol ajaib ini, termasuk di Photoshop. Hanya saja Photoshop punya fasilitas tambahan yaitu mampu mencatat sekitar 20 langkah terakhir dari keseluruhan yang sudah kita lakukan. Catatan ini bisa kita lihat pada window HISTORY yang ada di sebelah kanan layar.


Berbeda dengan tombol UNDO yang berada pada EDIT > UNDO, HISTORY memiliki kelebihan dimana kita bisa memilih dan mengulang langkah yang sudah kita lakukan sebanyak 20 langkah ke belakang. Jadi jika kita membuat kesalahan, kita masih memiliki 20 langkah bonus sebelum kesalahan itu tidak bisa diperbaiki lagi. Selain itu, window HISTORY ini bisa digunakan dengan fungsi History Brush dimana kita bisa memanggil kembali perubahan yang sudah kita simpan untuk diaplikasikan pada langkah terakhir. History Brush akan kita bahas pada ulasan lain, sabar, ya...

Lalu bagaimana cara menggunakan window HISTORY ini? Jika kita ingin kembali ke langkah sebelumnya, tinggal kita klik saja pada langkah yang kita inginkan. Klik lah pada kolom yang berisikan catatan langkah yang sudah kita lakukan, bukan pada kolom kecil kosong yang ada di depannya.

Cukup jelas, kan, ulasannya?

Kalau belum jelas silakan tekan undo atau pakai history untuk mengulang. :D

Minggu, 30 Mei 2010

My first bucks :D

Hari ini bucks pertama masuk ke paypal...hihi lucu juga ngeliatnya :D

Jumat, 28 Mei 2010

Mengubah Ukuran Foto dengan Photoshop

Melakukan resize atau mengubah ukuran foto dengan Photoshop (PS) sangatlah mudah. Ada beberapa hal yang perlu kita pahami pada panel fungsi PS sebelum melakukan resize agar hasilnya tepat seperti yang kita inginkan. Tapi sebelum kita membahas panel tersebut, kita harus melakukan penyesuaian satuan ukuran terlebih dahulu.

Perlu dipahami bahwa satuan ukuran panjang yang paling lazim di Indonesia adalah centimeter (cm). Sedangkan default yang dipakai Photoshop biasanya satuan inchi (in) dimana ini akan sedikit menyulitkan kita dalam melakukan resize. Untuk itu kita harus mengubah default ini terlebih dahulu menjadi cm.

Oke, sekarang bukalah salah satu foto yang akan di-resize. Bisa dengan cara drag n drop ke PS atau dari fungsi FILE > OPEN. Setelah foto kamu buka, pada fungsi utama PS, buka EDIT > PREFERENCES > UNITS&RULERS lalu ganti default RULERS dengan 'cm', lalu tekan 'OKE'. Maka tampilan rulers atau penggaris pada bingkai setiap foto yang kita buka pada PS akan memiliki skala centimeter untuk selama-lamanya sampai akhir zaman.

Langkah selanjutnya EDIT > IMAGE > IMAGE SIZE. Inilah panel utama dari pengaturan ukuran foto. Jika benar maka tampilannya akan tampak seperti di bawah ini.


Dua kolom paling atas dengan ekstensi pixels, menunjukkan ukuran foto yang sedang kita buka dalam satuan pixel. Jika ada permintaan untuk mengubah foto dengan ukuran terpendek 400 pixel misalnya, maka pada kolom inilah kita melakukan perubahan angka.

Di bawah kolom Pixel Dimensions ada tiga kolom dalam Document Size. Dua kolom teratas untuk ukuran panjang dan lebar dalam satuan yang sudah kita ubah defaultnya, yaitu centimeter. Jika belum, ubahlah menjadi cm dahulu. Sedangkan kolom ke tiga adalah angka resolusi foto kita. Satu hal yang penting untuk diingat adalah pada saat kita mengubah angka pada kolom-kolom tadi, pastikan colom Constrain Proportions tercentang. Kenapa? Agar foto tetap proporsional setelah di-resize, tidak gepeng atau lonjong. Jika selesai, tinggal klik Oke, maka berubahlah foto kita sesuai dengan yang kita inginkan.

Tapi tunggu dulu....
Ada cara lain yang lebih fleksibel untuk mengubah ukuran foto sesuai kehendak kita, yaitu cara Cropping. Perhatikan toolbar yang ada di kiri PS. Aktifkan fungsi crop tool dengan cara mengekliknya, seperti pada gambar di wabah ini.

Setelah aktif, perhatikan kolom width dan height pada kolom toolbar di atas. Ubahlah angka pada kolom width untuk panjang dan height untuk tinggi sesuai kebutuhan kita. Cek apakah satuan panjang sudah dalam cm atau belum (default bisa 'in' atau 'px'). Jika belum ubahlah dengan cara mengganti jadi 'cm'. Setelah selesai, drag mouse kita pada bidang foto yang akan kita potong dan akan muncul bidang yang terseleksi. Bidang inilah yang jika kita klik dua kali di dalamnya, akan terpotong dan membuang bidang di luar seleksi.

Perhatikan, jika setelah di-crop foto berubah lebih besar, maka kita perlu mengulangnya dan mengecilkan angka pada kolom Resolution. Jika angka awalnya adalah 130, ubahlah menjadi 100 atau 72. Pembesaran foto secara ekstrim akan mengakibatkan pecah-pecah, bintik warna warni, pegal-pegal dan hidung tersumbat. Loh...!

Beres.

Sudah selesai? Memang cuma segitu aja.
Selamat berkarya...

Kamis, 20 Mei 2010

Membuat Pasfoto Sendiri

Satu hal kecil yang tidak bisa dihindari siapapun di dunia ini adalah membuat pasfoto. Semua orang, suka tidak suka harus membuat pasfoto dalam hidupnya. Bagi yang suka berpose di depan kamera, jelas tidak ada masalah sesering apapun ia harus mengunjungi studio foto. Tapi bagi yang tidak suka mungkin rasanya seperti ada permen karet abadi yang menempel di rambutnya.

Istilah pasfoto sebenarnya berasal dari kata passport photo. Ya, foto dengan ukuran kecil untuk ditempelkan pada paspor. Padahal banyak, ya, formalitas lain yang mengharuskan kita berfoto dengan ukuran kecil seperti ijazah, KTP, SIM, dsb. Tapi kenapa tidak populer dengan nama Ijafoto, Kfoto atau Sfoto? Menjawabnya sangat mudah, 'sebab jelek'sih...

Selanjutnya kita akan membahas tips untuk pembuatan pasfoto sendiri di rumah. Tetapi tips ini khusus untuk mereka yang malas berfoto saja,ya... Sebab bagi mereka yang suka berpose, jika menerapkan tips ini efeknya akan menjadi semakin narsis.

Peralatan:
1. Kamera hape minimal 2 mp (mega pixel)
2. Komputer dan software Photoshop
3. Printer warna
4. Kain warna biru/merah/kuning/hijau polos (min. lebar 90cm, panjang 100cm)

Persiapan:
Setting Kamera
Agar mendapat hasil yang optimal, maka pengaturan kamera pada hape kamu harus dimaksimalkan. Semua option yang mempengaruhi kualitas hasil gambar harus distel pol sampai mentok. Jadi, kalau kamu menemukan settingan seperti kualitas, resolusi, pixel, ukuran, mutu, dan yang sejenisnya, langsung saja pilih angka yang paling besar untuk settingan itu. Jangan lupa, sebelum menggunakan kamera bersihkan dulu lensanya dengan kain lembut. Oh iya, jangan pernah menggunakan fasilitas modus malam untuk membuat pasfoto.

Pasang Latar
Untuk menghasilkan pasfoto yang baik, kita harus memperhatikan penggunaan background atau latar. Pasfoto biasanya mempresentasikan tentang sekilas siapa kita. Dengan penggunaan warna polos pada latar, selain berfungsi untuk menonjolkan obyek utama juga unsur estetikanya akan dinilai oleh orang yang melihat dan akan mempengaruhi penilaian terhadap diri kita. Apa jadinya jika pasfoto yang kita kirimkan untuk melamar pekerjaan latar belakangnya adalah jemuran baju di halaman belakang?... omg.

Jika kita sudah siap dengan kain polos berwarna, maka tinggal kita tempelkan saja secara horizontal pada tembok rumah dengan memaku pinggiran kainnya. Yang perlu diperhatikan saat pemasangan kain adalah usahakan tidak timbul kerutan atau lipatan. Hal ini akan mengurangi estetika foto dan kita harus bekerja ekstra di Photoshop nantinya. Sesuaikan ketinggian kain dengan ketinggian obyek. Lebihkan latar sekitar 25 cm dari ujung atas kepala obyek.

Carilah ruangan dengan penerangan yang bagus, bukan cukup! Sebab kita tidak pernah tahu kualitas dari kamera hape yang kita gunakan. Ingat, tampilan pada layar hape selalu lebih bagus dan jernih daripada kualitas aslinya. Gunakan penerangan tambahan seperti memasang beberapa lampu neon putih -bukan kuning- tambahan. Atau jika ingin lebih baik lagi, pasang latar kita di tembok luar rumah dengan syarat sinar yang datang dari arah juru foto. Hindari sinar matahari yang jatuh langsung pada obyek jika tanpa difuser. Jika perlu, bantu dengan reflektor untuk penerangan tambahan pada obyek. Satu lagi, pastikan tidak ada sinar terang dari belakang obyek.

Komputer, Printer, Bluetooth atau Kabel Data
Pastikan Photoshop sudah terinstall dengan baik dan siap digunakan. Tes juga apakah hasil cetakan printer baik dan tidak ada yang putus-putus. Untuk transfer foto dari hape ke komputer bisa menggunakan kabel data atau bluetooth. Jika hape kamu belum PnP (Plug and Play) alias tinggal colok, maka harus disiapkan juga drivernya untuk di-install ke komputer. Kalau ingin lebih praktis, kamu bisa menggunakan bluetooth yang device nya bisa kamu beli di toko-toko komputer. Lalu tinggal install driver yang ada di dalam CD bundel bluetooth yang kamu beli.

Bersambung....

Layar Hijau (Green Screen)


Layar hijau atau lebih dikenal dengan istilah green screen, sudah sejak lama digunakan Hollywood untuk memanipulasi background atau latar belakang dari obyek utama. Dengan menggunakan layar hijau ini obyek utama (biasanya orang) bisa ditempatkan di lokasi manapun tanpa harus berada di sana saat pengambilan gambar. Teknisnya yaitu dengan menghilangkan latar yang berwarna hijau tersebut dan mengganti dengan gambar lain melalui software di komputer.

Melirik teknologi Hollywood tersebut, dalam gelombang digitalisasi yang semakin mencengangkan, tampaknya fotografi juga mulai mengaplikasikan teknik ajaib ini. Kita bisa menawarkan kepada model kita untuk berfoto di depan menara Eifel, gedung Capitol, atau tugu Monas (banyak loh yang belum pernah ke monas), tanpa kita harus pergi ke tempat-tempat tersebut. Kita hanya akan memrosesnya di komputer dengan software pengolah gambar atau foto.

Penggunaan layar hijau tidaklah sesulit yang kita bayangkan. Sebab sebenarnya kita akan melakukan efisiensi di banyak hal dalam fotografi. Kita tidak perlu membeli berlembar-lembar layar background dengan gambar pemandangan dan berlembar-lembar lainnya untuk lukisan bunga warna-warni. Lalu bagaimana jika anak-anak SMA ingin berpose di depan lukisan futuristik, atau balita tentangga ingin difoto dengan latar belakang Upin Ipin atau Spongebob? Belum lagi aturan pembuatan KTP yang mengharuskan penggunaan warna merah untuk tahun lahir ganjil dan biru untuk tahun lahir genap. Belum berkarya kita sudah bangkrut karena membeli background. Bandingkan jika kita menggunakan layar hijau. Kita bisa skip masalah-masalah sepele itu dan lompat ke soal yang lebih penting. Oke, kan?

Kenapa harus hijau?

Tenang, ini bukan soal partai. Tujuan utama dari penggunaan layar hijau adalah untuk menonjolkan obyek utama sekaligus melakukan blocking terhadap latar belakang sehingga mudah untuk diedit atau dihilangkan untuk kita ganti dengan gambar lain. Sebelum green screen, sebenarnya istilah blue screen lebih dahulu populer dan digunakan Hollywood. Namun saat ini mereka lebih sering menggunakan layar hijau dan mulai meninggalkan layar biru untuk manipulasi background. Entah alasan mereka apa, yang jelas dalam melakukan editing warna hijau dalam fotografi, baik itu dalam pemisahkan latar dari obyek utama maupun saat penetralisiran warna hijau yang tersisa di bagian pinggir obyek, akan lebih mudah jika kita bekerja dengan warna hijau ketimbang warna biru. Warna biru masih bisa kita gunakan jika obyek atau model kita didominasi oleh warna hijau. Misalkan saat pemotretan, model menggunakan baju hijau atau jika ia adalah makhluk dari Mars, maka kita bisa menggunakan latar biru. Kembali ke aturan awal, yaitu menonjolkan obyek dari latar.

Nah, jika filosofinya sudah kita pahami -cieh, filosofi layar hijau-, selanjutnya tinggal kita persiapkan apa saja yang diperlukan untuk jadi praktisi layar hijau ini.

Yang pertama, karena kita akan bermain dengan fotografi maka tentu saja kameralah yang harus kita siapkan. Cukup kamera hape dengan kemampuan 2 mp atau lebih saja. Sebab jika kita mulai dengan DSLR 450D-nya Canon atau D60-nya Nikon, akan berbeda pendalaman bahasan selanjutnya. Maksudku, kalau kita punya gebetan, tentu saja akan berbeda pendekatannya tergantung dia anak pedagang soto atau anak kepala desa (tjap djadoel).

Kedua, siapkan layar hijaunya. Hollywood menggunakan layar hijau berbahan semacam plastik dengan harga fantastik bikin mata mendelik. Kalaupun kita bertanya ke setiap toko yang ada di kota kita, pasti tidak ada yang menjual 'layar hijau'. Tapi jangan down dulu sebab perjuangan masih panjang. Kita bisa menggunakan apapun untuk dijadikan layar hijau, ya... apapun, asalkan berwarna hijau -bolehbaca:uang-. Kita bisa mengecat tembok rumah dengan warna hijau. Atau bisa juga menggunakan kain lebar berwarna hijau. Untuk tembok, pilihlah bagian yang paling rata dan mulus tanpa lubang. Sebab gelombang dan cekungan di tembok bisa menimbulkan bayangan yang akan mempersulit kita saat melakukan pengeditan. Untuk kain, pilihlah kain dengan bahan yang tidak menimbulkan kilatan balik cahaya dari lampu, polos dan tidak mudah kusut. Saat pemasangan kain, sebisa mungkin untuk menghindari lipatan atau kerutan yang bisa menimbulkan bayangan saat terkena sinar. Untuk pemilihan warna hijau, sebaiknya jangan terlalu tua. Sebab biasanya penerangan tanpa lampu studio menghasilkan pencahayaan yang kurang memadai sehingga latar menjadi terlalu gelap dan susah untuk diedit. Untuk itu kita memerlukan hijau yang lebih muda atau terang.

Ketiga, penerangan. Idealnya kita menggunakan lampu studio, baik jenis strobo maupun continues. Jika belum ada, kita bisa memasang lampu neon sebanyak dan seterang mungkin agar ruangan terang benderang dan meminimalisir bayangan. Kita juga bisa memanfaatkan cahaya matahari dengan menempatkan lokasi pemotretan di luar ruangan, misalnya di tembok belakang rumah saat siang hari. Ingat, hindari obyek utama dari sinar matahari yang jatuh langsung jika tanpa difuser atau reflektor.

Keempat, software. Kita bisa menggunakan Photoshop untuk melakukan editing layar hijau ini. Hanya saja, sangatlah susah mencari buku yang membahas cara mengedit foto dengan layar hijau. Nah, pada topik lain kita akan membahas soal ini, sampai kita bisa menjadi seorang pengendali Photoshop -seperti Aang si pengendali udara- yang bahkan bisa melakukan seleksi pada rambut yang terurai, dengan sempurna. Atau jika ingin mencoba software yang khusus menangani seleksi layar hijau, bisa download di www.greenscreenwizard.com.

Oke, selamat berkreatif...